Senin, 16 Maret 2009

puisi-puisi

Kidung Purnama




SUATU MALAM DI BANDUNG



Jalan-jalan itu sangatlah lengang
Dan sejenak aku mulai menjiarahinya
Sambil menerjemahkan kembali
Bayang-bayang bulan yang terlalu suntuk
Bila harus membimbing kesunyian kota
Pepohonan pun turut merunduk tersipu-sipu
Seperti lugu merasakan suasananya cuaca
Dengan taburan bintang cukup cemerlang
Begitu lama kutatap kehampaan saat itu
Bersama kunag-kunang cinta kulepaskan
Jauh melayang-layang tertiup angin malam


2008





TANGKUBAN PERAHU



Menjelang tengah hari itu
Hanyalah tebaran kabut tebal yang kutatap
Hingga sesekali samar-samar wajah pucat
Itu saling berkelebat dan menebar pesona
Saat hujan dengan rela menjatuhkan dirinya
Di balik dekapan langit tanpa ada keraguan lagi
Bergerak begitu cepat menghampirinya
Tebing-tebing cadas serta pepohonan cantigi
Menggigil kaku di antara para pengembara
Namun hatinya tetaplah menggelora bagai lava


2008







DINNER



Mungkin saja karena hujan itu
Yang membuatku untuk mampu bercerita
Dalam kesederhanaan gaun-gaun malam
Benda-benda antik dan bambu-bambu kecil
Pun turut menggigil di antara dua sisi café
Yang mengisahkan suasana tenang juga indah
Temaramnya lampion-lampion bercahaya
Aroma parfum membaur dengan daging baker
Matanya yang coklat juga tajam mengkilat itu
Seolah menantangku untuk saling berbagi nasibnya
Yang remuk terurai hujan seperti enggan untuk reda
Dengan bahasa-bahasa tubuh yang cukup sempurna
Menyimpan segumpal kegelisahan dan sedikit puitis
Berkali-kali angin menggoda rambutnya
Dengan seulas warna kemerahan melerai basahnya cinta
Sudah cukup lama teraniaya bersama tebaran kabut


2008







HOTEL PANORAMA LEMBANG MIDNIGHT



Dari cottage ke cottage
Rumput-rumput yang basah itu
Membungkus separuh batu-batu hitam
Yang selalu menunggu kesunyiannya malam
Dengan sedikit senyum yang cukup menikam
Dengan tulus pula kau beri aku segelas bir
Sedangkan sepotong bulan terkadang lenyap
Begitu saja terhapus oleh iring-iringan kabut
Lampion café dan lampu-lampu taman menebar
Warnanya sedikit buram di antara hangatnya
Tungku perapian yang dibakar menjelang
Lengkingan adzan magrib sayup-sayup menyapa
Aku hanya terdiam dalam gairah tatapan matanya


2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar